MEDIA KOMUNITAS CRYPTO

Home » Ada Hantu Inflasi AS & Perang Ukraina, Bitcoin cs Loyo Lagi

Ada Hantu Inflasi AS & Perang Ukraina, Bitcoin cs Loyo Lagi

Foto: Infografis/ Top Gainers dan Top Losers Kripto Sepekan/ Edward Ricardo Sianturi


Tabloidcrypto News – Harga mayoritas kripto utama berbalik arah ke zona koreksi pada perdagangan Jumat (11/3/2022) pagi waktu Indonesia, di mana sentimen pasar kembali memburuk karena panasnya kembali tensi geopolitik Rusia-Ukraina dan inflasi Amerika Serikat (AS) yang melonjak kembali bulan lalu.

Melansir data dari CoinMarketCap pada pukul 09:00 WIB, hanya koin digital (token) Terra yang masih menguat pada hari ini. Terra melesat 2,07% ke level harga US$ 99.02/koin atau setara dengan Rp 1.417.471/koin (asumsi kurs Rp 14.315/US$).

Sedangkan sisanya terpantau koreksi. Bitcoin ambles 5,64% ke level harga US$ 38.744,19/koin atau setara dengan Rp 554.623.080/koin, Ethereum merosot 3,96% ke level US$ 2.565,42/koin atau Rp 36.723.987/koin.

Selanjutnya BNB ambrol 5,06% ke US$ 368,05/koin (Rp 5.268.636/koin), Cardano drop ke US$ 0,7947/koin (Rp 11.376/koin), Solana tergelincir 5,54% ke US$ 81,61/koin (Rp 1.168.247/koin), dan Avalanche ambruk 4,18% ke US$ 73,53/koin (Rp 1.052.582/koin).

BACA JUGA : Upaya Mencegah Rusia Manfaatkan “Celah Kripto” untuk Kelabui Sanksi

Berikut pergerakan 10 kripto besar berdasarkan kapitalisasi pasarnya pada hari ini.

Kripto

Bitcoin dan kripto utama lainnya kembali terkoreksi pada hari ini, setelah sempat menguat karena investor merespons positif dari langkah Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden yang telah mengakui keberadaan aset digital termasuk cryptocurrency.

Sentimen kembali memburuk setelah tensi konflik antara Rusia dengan Ukraina kembali memanas. Negosiasi kedua negara yang dijembatani oleh Turki kembali gagal.

Negosiasi tersebut tidak menghasilkan banyak kesepakatan mengenai gencatan senjata maupun pembukaan jalur pengungsian untuk warga sipil yang terdampak perang.

Di lain sisi, Pasukan Rusia yang dilaporkan semakin mendekati ibu kota Ukraina, Kyiv. CNBC International melaporkan salah satu pejabat di Pentagon menyebut jika pasukan Rusia sudah berada sekitar 15 kilometer dari Kyiv. Pejabat tersebut juga yakin Rusia berencana mengepung Kyiv.

Gagalnya negosiasi antara dua negara penghasil energi dan pangan global tersebut membuat pasar komoditas ikut bereaksi. Baik harga minyak mentah dan gandum keduanya mengalami kenaikan.

Harga komoditas energi dan pangan yang lebih tinggi menjadi ancaman lain bagi inflasi yang sekarang sudah melesat signifikan.

Selain dari memanasnya kembali tensi Rusia-Ukraina, investor juga khawatir dengan inflasi global yang masih akan meninggi. Dari AS, data inflasi pada bulan lalu yang ditunggu-tunggu banyak pihak kembali melonjak.

Inflasi AS per Februari melesat sebesar 7,9% (secara tahunan), menjadi yang tertinggi dalam 40 tahun terakhir, dan melampaui ekspektasi ekonom dalam polling Dow Jones yang memprediksi angka 7,8%. Secara bulanan, inflasi tercatat 0,8%, atau lebih tinggi dari estimasi sebesar 0,7%.

BACA JUGA : Bantu Anak-anak di Ukraina, Binance Sumbang Aset Kripto Rp 36 Miliar

“Situasi inflasi memburu, dan bukannya membaik. Bahan pokok menjadi kian mahal… di satu sisi harga BBM jadi biangnya, harga makanan dan rumah juga menjadi pendorong inflasi Februari,” tutur John Leer, ekonom kepala Morning Consult, dikutip CNBC International.

Inflasi yang tinggi berarti harga barang dan jasa di perekonomian melambung. Ketika harga suatu barang dan jasa di perekonomian semakin mahal dan tak terjangkau artinya ekonomi dalam bahaya karena daya beli masyarakat tergerus.

Hal ini bisa berdampak pada terjadinya perlambatan atau bahkan kontraksi output yang sering disebut sebagai resesi. Jika hal ini terjadi dan daya beli masyarakat benar-benar tergerus kembali, maka pasar kripto berpotensi akan kembali lesu karena masyarakat lebih memilih menahan selera investasinya di aset berisiko.

Sumber : cnbcindonesia.com

Berlangganan Tabloid Crypto


Affiliate Banner Unlimited Hosting Indonesia