MEDIA ONLINE KOMUNITAS CRYPTO

Home » Aset Kripto Ambles, Langkah Bitcoin ke Rp 1 M Tertunda

Aset Kripto Ambles, Langkah Bitcoin ke Rp 1 M Tertunda

Foto: Ilustrasi/ Cryptocurrency


TABLOID CRYPTO – Harga bitcoin, ethereum, dan kripto berkapitalisasi pasar di atas US$ 30 miliar lainnya terpantau diperdagangkan di zona merah pada Selasa (16/11/2021) pagi waktu Indonesia, karena investor menimbang sentimen dari proses upgrade Taproot Bitcoin.

Melansir data dari CoinMarketCap pada pukul 09:10 WIB, hanya koin digital berjenis stablecoin yakni USD Coin yang masih menguat pada pagi hari ini, yakni menguat tipis 0,06%.

Sementara sisanya diperdagangkan di zona merah pada pagi hari ini. Bitcoin ambles 5,98% ke level harga US$ 61.954,85/koin atau setara dengan Rp 879.758.870/koin (asumsi kurs Rp 14.200/US$), setelah bertahan di kisaran level US$ 63.000-US$ 65.000 beberapa hari sebelumnya.

Berikutnya ethereum ambruk 6,82% ke level US$ 4.390,17/koin atau Rp 62.340.414/koin dan polkadot anjlok 9,05% ke US$ 42,73/koin (Rp 606.766/koin).

BACA JUGA : Bitcoin Dinilai Menjadi Lindung Nilai Inflasi Terbaik

Berikut pergerakan 10 kripto dengan kapitalisasi pasar di atas US$ 30 miliar pada hari ini.

Kripto

Bitcoin kembali melemah dan diperdagangkan di kisaran level US$ 61.900, di tengah sentimen dari upgrade Taproot jaringan blockchain yang sangat dinanti-nantikan oleh investor di bitcoin. Namun, kabar ini tidak banyak memberikan sentakan pasar secara langsung, terlepas dari beberapa analis yang masih mempertahankan perkiraannya bahwa tren bitcoin masih bullish.

Katalis berikutnya datang dari peluncuran VanEck Bitcoin Strategy ETF pada hari ini, exchange trade fund di bursa berjangka bitcoin pertama yang diperdagangkan sejak debut ETF bitcoin berjangka seperti ProShares dan Valkyrie pada akhir Oktober lalu.

“Pekan ini, kita melihat ETF bitcoin berjangka lain mulai diperdagangkan dan arus masuk akan memberi tahu,” kata Matt Blom, head of sales and trading di perusahaan crypto Eqonex, dikutip dari CoinDesk.

“Permintaan yang kuat akan memungkinkan pasar untuk menetap, menyerap, dan bersiap untuk bergerak kembali menuju all time high (ATH) baru bagi Bitcoin di kisaran level US$ 70.000,” tambah Blom.

Namun, masih harus dilihat apakah investor akan terus mengakumulasi bitcoin dengan harapan keuntungan jangka panjang.

“Secara historis, bitcoin telah meningkat setelah peningkatan sebelumnya [ke blockchain Bitcoin], begitu banyak yang melihat ini sebagai kemungkinan sejarah yang berulang,” kata Marcus Sotiriou, trader di broker aset digital GlobalBlock yang berbasis di Inggris, dilansir dari CoinDesk.

Dalam jangka pendek, indikator teknikal menunjukkan momentum kenaikan yang melambat di bitcoin. Ini berarti kemunduran saat ini dapat berlanjut di jam perdagangan Asia, meskipun terbatas pada zona support US$ 57.000-US$ 60.000.

BACA JUGA : Beda MUI dan Yenny Wahid dalam Memandang Mata Uang Kripto

“Sementara bitcoin tetap dalam fase bullish, namun kecenderungan menuju konsolidasi mengkhawatirkan, membentuk kemajuan pasar dalam langkah-langkah kecil,” kata Alex Kuptsikevich, analis di FxPro kepada CoinDesk.

Di lain sisi, Bloomberg LP dan Galaxy Digital telah merilis indeks Solana, menjadikan koin digital (token) solana sebagai indeks kripto ketiga dengan pelacak harga mandiri yang dikembangkan setelah bitcoin dan ethereum.

Peluncuran tersebut menandakan peningkatan minat pada token solana yang telah melonjak lebih dari 11.700% dalam 12 bulan terakhir. Bloomberg dan Galaxy kini telah mengeluarkan lima indeks kripto sejak memulai kolaborasi mereka.

Sumber : cnbcindonesia.com

Berlangganan Tabloid Crypto