MEDIA KOMUNITAS CRYPTO

Home » Dear Trader! 6 Fakta Ini Bukti Xi Jinping ‘Benci’ Bitcoin cs

Dear Trader! 6 Fakta Ini Bukti Xi Jinping ‘Benci’ Bitcoin cs

Foto: cnn.com


TABLOID CRYPTO – Penetrasi cryptocurrency alias mata uang kripto yang begitu massif membuat pemerintah China di bawah Presiden Xi Jinping menerapkan beberapa kebijakan yang pada prinsipnya kontra terhadap peredaran mata uang digital ini, kendati harga komoditas yang kini jadi investasi global ini masih terus meningkat.

Secara harga, cryptocurrency kembali berjatuhan pada perdagangan Selasa pagi kemarin (8/6/2021) waktu Indonesia, setelah pada perdagangan Senin sempat rebound dan bergerak menguat.

Berdasarkan data dari Investing Selasa pagi pukul 09:00 WIB, harga bitcoin ambles 7,95% ke level US$ 33.778,20/koin atau setara dengan Rp 481.840.317/koin, ethereum merosot 6,66% ke US$ 2.606,41/koin (Rp 37.180.439/koin), litecoin ambrol 9,58% ke US$ 163,10/koin (Rp 2.327.335/koin).

Berikutnya chainlink ambruk hingga 11,52% ke posisi US$ 24,83/koin (Rp 353.915/koin), ripple longsor 10,73% ke US$ 0,864/koin (Rp 12.333/koin), cardano terkoreksi 8,07% ke US$ 1,576/koin (Rp 22.488/koin), dan dogecoin jatuh 9,48% ke US$ 0,337/koin (Rp 4.812/koin).

Dari sisi sentimen, CNBC Indonesia merangkum beberapa kebijakan yang selama ini diterapkan pemerintahan Tiongkok yang menjadi salah satu sentimen penggerak fluktuasi harga kripto global.

BACA JUGA : Anggota Parlemen Meksiko Ingin Mengikuti Contoh Negara Tetangga dengan UU Bitcoin

1. China Blokir Akun Medsos Pro-Kripto

Pemerintah China menunjukkan keseriusannya dalam menghadang laju mata uang kripto. Negara di bawah kendali Presiden Xi Jinping itu memutuskan untuk memblokir akun-akun di media sosial yang berkaitan dengan bitcoin cs.

Melansir Reuters, selama akhir pekan, akses ke beberapa akun yang berkaitan dengan cryptocurrency di Weibo diblok. Pemerintah China bahkan menulis pesan yang mengatakan setiap akun itu “melanggar hukum dan aturan”.

“Ini Hari Penghakiman untuk kripto”, tulis komentator bitcoin Weibo yang menyebut dirinya “Woman Dr. bitcoin mini”. Akun utamanya juga diblokir pada hari Sabtu (5/6/2021).

Pembekuan di Weibo terjadi ketika media China melaporkan banyaknya penipuan terkait perdagangan kripto. Tak hanya Xinhua, ini juga dilaporkan CCTV.

CCTV bahkan mengatakan cryptocurrency adalah aset yang diatur dengan ringan yang sering digunakan dalam perdagangan pasar gelap, pencucian uang, penyelundupan senjata. Bahkan kripto digunakan untuk perjudian dan transaksi narkoba.

2. Tiongkok Larang Penambang Kripto

Sejak Jumat (21/5), pemerintah China menegaskan akan memberantas segala bentuk aktivitas penambangan dan perdagangan bitcoin dkk. Pemerintah China, lewat Wakil Perdana Menteri China Liu He dan Dewan Negara, sudah menegaskan bahwa dibutuhkan regulasi yang lebih ketat untuk melindungi sistem keuangan.

“Perlu untuk menindak penambangan bitcoin dan perilaku perdagangan, dan dengan tegas mencegah transmisi risiko individu ke bidang sosial,” tulis pernyataan Tiongkok dikutip dari CNBC International.

Kekhawatiran China terhadap aktivitas penambangan dan transaksi kripto lantaran kegiatan tersebut dinilai menjadi pusat sejumlah masalah. Penambangan bitcoin dilakukan oleh komputer dengan penggunaan energi yang besar, yang kemungkinan mencemari lingkungan.

“Penting pula untuk menjaga kelancaran pasar saham, utang, dan valuta asing, menindak keras kegiatan sekuritas ilegal, dan menghukum berat kegiatan keuangan ilegal,” lanjut pernyataan tersebut.

3. China Larang transaksi Bitcoin dkk

Pernyataan resmi dari China pada akhir Mei lalu menyatakan bahwa melarang lembaga keuangan dan perusahaan pembayaran untuk menyediakan layanan yang terkait dengan transaksi mata uang kripto.

Negara ini bahkan telah memperingatkan investor agar tidak melakukan perdagangan mata uang kripto yang dianggap pemerintah spekulatif, selain karena China tengah membuat mata uang digital sendiri yang akan dikeluarkan otoritas moneter.

4. Perlawanan Trader Kripto

Kendati ditekan sana sini, mengutip laporan CNBC International, para trader kripto ternyata memberontak atas kebijakan Xi Jinping ini.

Menurut Matthew Graham, CEO Sino Global Capital, sebuah perusahaan modal ventura yang berbasis di Beijing fokus pada teknologi blockchain, pelaku pasar tidak ciut sekalipun soal larangan penambangan dan transaksi kripto yang diterapkan China ini. Kabar trader ketakutan hanyalah sesuatu yang dilebih-lebihkan.

Padahal faktanya tidak gentar para ‘pemain’ kripto dengan larangan pemerintahan di bawah Presiden Xi Jinping.

“Pengaruh memudar dari pedagang bitcoin China adalah cerita yang dilebih-lebihkan,” kata Graham kepada CNBC.

“Faktanya adalah bahwa pedagang China masih memiliki pengaruh yang sangat besar.”

Cara mereka untuk keluar dari larangan ini adalah dengan menggunakan platform perdagangan crypto-to-crypto seperti membeli bitcoin dengan stable coin yang terhubung dengan dolar AS yang disebut tether (USDT).

Beberapa platform menawarkan layanan konversi renminbi (yuan) ke USDT yang memungkinkan pengguna China mendapatkan kripto yang diperlukan untuk membeli Bitcoin.

“Setelah seseorang membeli Bitcoin, mereka kemudian dapat menyimpannya di bursa luar negeri yang memungkinkan perdagangan crypto ke crypto,” kata Constantine Tsavliris, kepala penelitian di CryptoCompare.

Dengan adanya platform seperti ini, beberapa analis menilai bahwa akan ada lebih banyak trader dan investor kripto.

“Saya pikir ada lebih banyak pedagang (sekarang). Bitcoin telah mendapatkan urutan besarnya harga,” kata Bobby Lee, mantan CEO salah satu bursa cryptocurrency paling awal di China, BTCC.

“Saat ini, semakin banyak orang menggunakan mata uang stabil seperti USDT,” kata Lee, yang juga merupakan pendiri dompet cryptocurrency Ballet.

“Artinya mereka tidak lagi harus berurusan dengan transfer Renminbi (mata uang China), itu pindah ke masyarakat melalui pembayaran USDT untuk masuk dan keluar dari Bitcoin. Ini menjadi mata uang bawah tanah.”

BACA JUGA : El Salvador, Negara Pertama Yang Legalkan Bitcoin

5. Sejarah Larangan Sejak 2009 dan 2017

Larangan kripto di China bukanlah hal baru. Pada 2017, China juga menutup pertukaran mata uang kripto lokal dan melarang apa yang disebut penawaran koin awal (ICO), cara untuk mengumpulkan uang bagi perusahaan kripto dengan menerbitkan token digital. ICO atau Initial Coin Offering (ICO) semacam IPO (initial public offering) di pasar saham.

Lebih lama lagi, pada awal September 2009, China juga memerintahkan pertukaran mata uang kripto lokal untuk ditutup. Saat itu bitcoin diperdagangkan dengan harga lebih dari US$ 4.000 (Rp 57 juta). Kini harga bitcoin bahkan sempat menyentuh US$ 65.000 pada awal April lalu, atau setara Rp 930 juta/koin (kurs Rp 14.300/US$).

6. China Uji Coba Yuan Kripto

Larangan China atas kripto ini memang punya argumentasi, salah satunya otoritas moneter di sana akan merilis yuan kripto. Bahkan Pemerintah China akan membagikan 40 juta yuan atau setara dengan Rp90 miliar (kurs Rp 2.238/yuan) dalam bentuk mata uang digital atau kriptoke pada penduduk Beijing dengan skema undian, sebagai bentuk uji coba.

Dilansir CNBCInternational, penduduk Ibu Kota China dapat menggunakan dua aplikasi perbankan untuk mengajukan permohonan memenangkan satu dari 200.000 ‘paket merah’ sebagai bagian dari undian, berdasarkan informasi dari Biro Pengawasan dan Administrasi Keuangan Lokal Beijing.

Setiap amplop berisi 200 yuan (sekitar Rp 447.000) mata uang digital yang dapat digunakan di toko/pedagang terpilih. Batas waktu untuk melakukan pendaftaran adalah pada 7 Juni tengah malam.

Negara ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut saat ini belum melakukan peluncuran yuan digital secara nasional, proyek yang sudah digarap sejak 2014, akan tetapi lebih berfokus pada uji coba dalam bentuk undian di seluruh negeri.

Li Bo, Wakil Gubernur Bank Rakyat China (People’s Bank of China/PBOC), bank sentralnya, mengatakan pada bulan April bahwa bank sentral akan memperluas cakupan proyek yuan digital dan bahkan bisa jadi memberikan izin kepada pengunjung asing di Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022 untuk menggunakannya.

Pada bulan Februari, kota Chengdu di barat daya China membagikan 40,2 juta yuan mata uang digital.

Tahun lalu, kota-kota lain seperti pusat teknologi Cina di Shenzhen mengadakan undian mereka sendiri.

Yuan digital bukanlah mata uang kripto seperti bitcoin. Hal ini karena yuan digital dikeluarkan oleh otoritas moneter pusat – PBOC – sedangkan bitcoin tidak dan oleh karenanya sistem yang digunakan dikatakan “terdesentralisasi.”

Sumber : cnbcindonesia.com