MEDIA KOMUNITAS CRYPTO

Home » Lelah Koreksi, Harga Kripto Mulai Bergerak Naik

Lelah Koreksi, Harga Kripto Mulai Bergerak Naik

Ilustrasi Pergerakan Aset Kripto


TABLOID CRYPTO – Harga mata uang kripto (cryptocurrency) kembali diperdagangkan menguat pada perdagangan Kamis (15/7/2021) pagi waktu Indonesia, setelah selama dua hari beruntun mengalami pelemahan.

Berdasarkan data dari CoinMarketCap pukul 09:00 WIB, dari tujuh kripto berkapitalisasi terbesar, enam diantaranya berhasil rebound ke zona hijau.

Bitcoin, kripto dengan kapitalisasi terbesar pertama menguat 1,32% ke level harga US$ 32.790,89/koin atau setara dengan Rp 474.156.269/koin (asumsi kurs Rp 14.460/US$), Ethereum meroket 4,99% ke level US$ 2.002,72/koin (Rp 28.959.331/koin).

Berikutnya Binance Coin melonjak 3,38% ke US$ 309,09 per koin atau setara dengan Rp 4.469.441 per koinnya, Cardano bertambah 2,44% ke US$ 1,26 per koin (Rp 18.220 per koin)

BACA JUGA : VISA Terbitkan Kartu Debit Bitcoin Di Australia

Selanjutnya Ripple terapresiasi 1,62% ke US$ 0,6168 per koin atau setara dengan Rp 8.919 per koinnya dan Dogecoin melesat 2,48% ke US$ 0,1977 per koin (Rp 2.859 per koin).

Sementara untuk koin digital stablecoin, Tether cenderung stagnan diharga US$ 1 per koin atau setara dengan Rp 14.460 per koinnya.

 

Pada perdagangan Rabu (14/7/2021) kemarin, Bitcoin cenderung flat di sekitaran level US$ 33.000, setelah sempat terjatuh selama dua hari beruntun.

Analis mengatakan perdagangan Bitcoin cenderung mengikuti pergerakan aset investasi lainnya, seperti saham setelah Ketua bank sentral Amerika Serikat (AS), Jerome Powell berpidato dihadapan Kongres Amerika Serikat (AS).

Powell mengatakan bahwa dia masih belum melihat “kemajuan lebih lanjut yang substansial” pada pemulihan ekonomi AS yang menandakan bahwa bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) tidak mungkin untuk memutar kembali stimulus moneter kapan saja.

Komentar Powell muncul setelah Departemen Tenaga Kerja AS pada Selasa (13/7/2021) melaporkan bahwa inflasi AS meningkat cukup tajam pada Juni 2021, tercepat dalam 13 tahun terakhir.

Beberapa investor melihat bahwa Bitcoin dapat dianggap sebagai aset lindung nilai (hedging) terhadap inflasi.

“Apa yang membantu cryptocurrency menjadi positif adalah reli berbasis luas di Wall Street,” kata Edward Moya, ahli strategi pasar senior di Oanda, menulis dalam email kepada CoinDesk.

“The Fed tampaknya masih tetap dovish dan bersedia mentolerir beberapa bulan lagi tekanan harga yang melonjak sebelum mempertimbangkan perubahan nada atas debat inflasi sementara.”

Di lain sisi, Powell juga menghabiskan sebagian besar kesaksian di hadapan Komite Jasa Keuangan DPR untuk membahas prospek ekonomi AS, prospek inflasi, dan kemungkinan jalur kebijakan moneter.

Dia juga ditanyai tentang cryptocurrency, seperti yang dilaporkan oleh Nate DiCamillo dari CoinDesk.

Perwakilan Komite Keuangan Republik dari Carolina utara, Patrick McHenry bertanya kapan Fed akan menyampaikan laporan yang sangat dinanti-nantikan tentang mata uang digital bank sentral (central bank digital currency/CBDC) dan kripto.

Powell kemudian menjawab pertanyaaan dari McHenry dengan mengatakan bahwa laporan yang sebelumnya diperkirakan akan tiba pada bulan ini akan muncul pada September mendatang.

“Regulasi, bersama dengan masalah lingkungan, sosial dan tata kelola adalah risiko terbesar bagi kripto, jadi rilis The Fed pada September mendatang dari kekhawatiran [bank sentral] tentang mata uang digital harus dilihat sebagai kabar baik untuk bitcoin,” kata Moya, dilansir dari CoinDesk.

BACA JUGA : Ini yang Kita Tunggu ! Bitcoin Berada di Area Akumulasi ! Prediksi dan Berita Bitcoin Hari Ini !

Powell juga mempertimbangkan stablecoin, dengan alasan mereka perlu diatur lebih ketat jika mereka akan menjadi bagian utama dari jaringan pembayaran di AS.

“Stablecoin tentu memiliki beberapa keunggulan dalam hal sistem pembayaran yang lebih cepat dan memiliki beberapa atribut CBDC, tetapi ada beberapa risiko dengan stablecoin saat ini, saya pikir masalahnya adalah bahwa stablecoin sangat mirip dengan dana pasar uang atau deposito bank” kata Powell.

Powell juga mengatakan bahwa status dolar sebagai mata uang cadangan dunia tidak akan terancam jika CBDC direalisasikan, bahkan ketika negara lain mengembangkan CBDC.

Sumber : cnbcindonesia.com