MEDIA KOMUNITAS CRYPTO

Home » Maaf yang Nyangkut di Pucuk, Bitcoin Diramal Anjlok Lagi!

Maaf yang Nyangkut di Pucuk, Bitcoin Diramal Anjlok Lagi!

Ilustrasi Bitcoin


TABLOID CRYPTO – Pasar mata uang kripto ambrol di Mei, saat harga bitcoin anjlok lebih dari 35%. Di perdagangan pertama Juni ini, bitcoin masih belum mampu bangkit, bahkan kabar buruknya ada yang memprediksi kemerosotan masih belum akan berakhir.

Tidak hanya bitcoin, mata uang kripto lainnya juga mencatat kinerja negatif di bulan Mei. Melansir data Refinitiv, ripple merosot lebih dari 37%, sementara ethereum penurunannya tidak terlalu besar, hanya 6%. Dogecoin penurunannya juga terbilang kecil, sekitar 3%.

Sementara itu, bitcoin mengakhiri bulan Mei di US$ 36.685,94/BTC, ambrol 35,42%. Sementara pada hari ini, Selasa (1/6/2021) harga bitcoin turun lagi 1,14% ke US$ 36.269,33/BTC.

BACA JUGA : Kripto Lagi Ngehits, Aplikasi Trading Bermunculan

Harga bitcoin mencapai rekor tertinggi US$ 64.899,97/BTC pada 14 April lalu. Artinya, dari rekor tersebut ke posisi akhir Mei harga bitcoin ambrol lebih dari 43%. Mata uang kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar itu bahkan sempat menyentuh US$ 30.000/BTC pada 19 Mei lalu.

Beberapa analis melihat level US$ 30.000/BTC menjadi bottom atau titik terendah dari penurunan harga bitcoin. Meski demikian, beberapa analis juga melihat tren penurunan bitcoin masih akan belum berakhir. Artinya, investor yang membeli harga bitcoin saat harga di pucuk berisiko mengalami kerugian yang lebih besar.

“Saya percaya bitcoin masih akan turun makin dalam dari posisi saat ini,” tulis analis dari BiotechValley dalam sebuah catatan yang dikutip Cointelegraph, Rabu (26/5/2021).

“Saya pikir bitcoin perlahan akan turun dan membentuk dead cat bounce,” tambahnya.

Dead cat bounce merupakan analisis teknikal yang menunjukkan berlanjutnya tren penurunan. Suatu aset dikatakan mengalami dead cat bounce ketika harganya merosot, kemudian perlahan berbalik naik seolah-olah akan bangkit. Tetapi setelahnya malah kembali mesorot.

Analis tersebut memperkirakan harga bitcoin berisiko merosot hingga ke US$ 15.000-US$ 16.000/BTC.

Bitcoin CS mulai jebloknya setelah mendapat “perlawanan” dari beberapa negara. China di bawah pemerintahan Presiden Xi Jinping melarang lembaga keuangan seperti bank dan fintech pembayaran untuk menyediakan layanan transaksi uang kripto.

Selain itu China juga akan mengeluarkan aturan baru untuk menindak penambang dan perdagangan mata uang kripto.

Lalu ada Presiden AS Joe Biden yang memberlakukan pelaporan pajak untuk transaksi kripto di atas nilai tertentu.

BACA JUGA : 3 Pilihan Strategi Trading Aset Kripto untuk Berinvestasi

Pemerintah Iran juga ikut mengumumkan larangan sementara penambangan bitcoin dan cryptocurrency lainnya pada Rabu (26/5/2021). Alasannya, para pejabat menyebut aktivitas itu “boros” energi dan menyebabkan pemadaman listrik di sejumlah kota di Iran.

Selain itu, Elon Musk yang membuat harga mata uang kripto meroket gila-gilaan di tahun ini juga membuatnya berbalik arah setelah mengumumkan Tesla menghentikan penggunaan bitcoin dalam pembelian mobil Tesla. Alasannya, penambangan bitcoin memicu peningkatan penggunaan bahan bakar fosil yang tidak ramah lingkungan.

“Tesla telah menangguhkan pembelian kendaraan menggunakan Bitcoin. Kami prihatin dengan peningkatan pesat penggunaan bahan bakar fosil untuk penambangan dan transaksi Bitcoin, terutama batu bara, yang memiliki emisi terburuk dari bahan bakar apa pun,” kicau Elon Musk pada pertengahan Mei lalu.

Sumber : cnbcindonesia.com