MEDIA KOMUNITAS CRYPTO

Home » Terus Dijegal ‘Para Musuh’, Harga Kripto Jadi Susah Naik

Terus Dijegal ‘Para Musuh’, Harga Kripto Jadi Susah Naik

Aset Kripto

Ilustrasi Aset Kripto


TABLOID CRYPTO – Dijegal di banyak negara membuat harga Bitcoin terus menerus tertekan. Kini nasib apes harus dialami Bitcoin cs yang sebelumnya menyita perhatian publik global karena harganya yang terus menerus to the moon.

Harga Bitcoin sempat melambung lebih dari 100% dari awal tahun hingga pertengahan April lalu. Cryptocurrency buatan Satoshi Nakamoto ini harganya sempat tembus US$ 65.000/BTC.

Dalam perjalanannya Bitcoin memang bergerak dengan volatilitas tinggi. Empat bulan pertama tahun ini Bitcoin beberapa kali mengalami koreksi tetapi mampu bangkit lagi dan bahkan sukses cetak rekor baru setelahnya.

Namun sejak pertengahan bulan April, harga Bitcoin longsor. Hanya dalam kurun waktu satu bulan kapitalisasi pasar Bitcoin yang tembus US$ 1 triliun ambles lebih dari 30%.

BACA JUGA : Harga Bitcoin Hingga Dogecoin Merosot Gara-Gara Dukungan Negara Berkurang

Sejak 20 Mei harga Bitcoin konsisten berada di bawah US$ 40.000. Hari ini Sabtu (29/5/2021) harga satu keping token digital tersebut setara dengan US$ 36.866. Harga Bitcoin terus turun setelah dijegal di banyak negara.

Para trader Bitcoin dan cryptocurrency atau mata uang digital lainnya semakin mendapatkan perlawanan keras dari sejumlah negara. Setelah China di bawah pemerintahan Xi Jinping, lalu Presiden AS Joe Biden yang memberlakukan pelaporan pajak untuk transaksi kripto di atas nilai tertentu, kali ini Iran juga melarang.

Pemerintah Iran ikut mengumumkan larangan sementara penambangan Bitcoin dan cryptocurrency lainnya pada Rabu (26/5/2021). Alasannya, para pejabat menyebut aktivitas itu “boros” energi dan menyebabkan pemadaman listrik di sejumlah kota di Iran.

Sebelum Iran, sudah terlebih dahulu pemerintahan Xi Jinping keras terhadap kripto di samping China ingin membuat mata uang digitalnya sendiri.

BACA JUGA : Lagi Booming, Edukasi Aset Kripto dan Blockchain Perlu Digenjot

Aksi jual secara massif masih pun terjadi sejak pekan lalu di pasar kripto setelah tindakan keras pemerintahan China. Pada Jumat pekan lalu, China melarang lembaga keuangan seperti bank dan fintech pembayaran untuk menyediakan layanan transaksi uang kripto.

China juga mengingatkan investor agar tidak memperdagangkan uang kripto spekulatif. Pada akhir pekan kemarin, China menambah hantaman dengan mengaku akan mengeluarkan aturan baru untuk menindak penambang dan perdagangan mata uang kripto.

Ditambah lagi, Elon Musk, pemilik pabrik mobil listrik Tesla dan salah satu orang terkaya di dunia, pun mempermasalahkan sustainability alias keberlanjutan dari penambangan dan transaksi Bitcoin di dunia. Bahkan dia memutuskan untuk menghentikan pembelian Tesla menggunakan Bitcoin.

Musk dalam keterangannya menyebutkan adanya kekhawatiran bahwa Bitcoin menyebabkan penggunaan bahan bakar fosil yang meningkat pesat. Dia juga menyinggung data dari peneliti di Universitas Cambridge yang menunjukkan lonjakan penggunaan listrik Bitcoin tahun ini.

Meskipun harga Bitcoin sempat rebound dan mendekati US$ 40.000 saat Elon Musk mengajak diskusi para ‘penambang’ Bitcoin soal sustainability, kenaikan harganya tak bertahan lama dan harga kembali merosot.

BACA JUGA : Nasib Crypto, Disayang Trader, Dilarang Negara

Satu lagi, Pemerintah Presiden AS Joe Biden juga bersikap keras pada penambang illegal Bitcoin. Departemen Keuangan AS menyebutkan akan meminta pelaporan pajak mengenai adanya transfer kripto dengan nominal lebih dari US$ 10 ribu, layaknya transaksi uang tunai.

Sentimen negatif terus-menerus menggempur aset keuangan digital yang masih relatif baru ini. Di saat yang sama harga emas justru mengalami kenaikan. Rivalitas emas dan Bitcoin semakin terlihat.

Saat harga Bitcoin naik harga emas cenderung turun. Begitu juga sebaliknya seperti yang belakangan ini terjadi. Saat Bitcoin susah bangkit ke US$ 40.000, harga emas dunia justru tembus US$ 1.900/troy ons.

Hal ini juga menunjukkan adanya pergerseran sentimen terhadap risiko di pasar. Apabila sebelumnya investor ritel dan institusi banyak melego emas untuk membeli Bitcoin. Kini yang terjadi justru sebaliknya.

Sumber : cnbcindonesia.com