“Desain, Bukan Larangan”: Korea dengan Hati-Hati Bahas Regulasi Stablecoin, Bukan Sekadar Blokir

oleh
33e12ac1d2eb45ba985d77d4f7399219
Ilustrasi

Tabloid Crypto – Perdebatan global tentang stablecoin terus memanas dan di Korea Selatan, diskusi itu kini terfokus pada gagasan bahwa stablecoin sebaiknya diatur secara cermat, bukan langsung diblokir. Istilah “Design, Not Ban” muncul sebagai slogan kebijakan di tengah tekanan regulasi dan kekhawatiran dari otoritas.

Menurut laporan media lokal, ada tekanan kuat dari politisi dan pelaku industri agar penerapan stablecoin terutama yang berbasis mata uang lokal seperti won dilakukan bukan dengan larangan, tetapi melalui desain regulasi, transparansi cadangan, dan mekanisme pengawasan yang ketat.

Mengapa Korea Pertimbangkan “Design, Not Ban” untuk Stablecoin

✅ Stabilitas & Transparansi Daripada Pelarangan

Pihak yang mendukung stablecoin berargumen bahwa jika diterbitkan dengan 100% cadangan, diaudit secara ketat, dan diatur dengan jelas maka stablecoin bisa menjadi alat pembayaran digital yang efisien tanpa mengguncang kestabilan moneter.

✅ Modernisasi Sistem Pembayaran & Inklusi Keuangan

Stablecoin berbasis won dianggap bisa mempercepat transaksi digital, menurunkan biaya pembayaran lintas batas (cross-border), dan mendorong inklusi keuangan lebih praktis daripada aset kripto volatil.

✅ Persaingan dengan Dominasi Dolar & USDT/USDC

Dengan stablecoin lokal, Korea bisa mengurangi ketergantungan pada stablecoin berbasis dolar seperti USDT/USDC, yang banyak digunakan global sekaligus mempertahankan kedaulatan moneter.

Baca Juga : Wall Street Masuk ke Dogecoin: ETF Grayscale Bikin DOGE Mendapat Angin Segar Baru

Namun — Ini Alasan Regulator & Bank Sentral Masih Hati-Hati

⚠️ Risiko “Coin Run” & Tekanan Likuiditas

Menurut BOK, meskipun diterbitkan dengan cadangan penuh, stablecoin bisa rentan terhadap “coin run” yaitu penarikan besar-besaran jika kepercayaan runtuh sama seperti kegagalan bank di masa lalu ketika kontrol likuiditas lemah.

⚠️ Pengaruh terhadap Kebijakan Moneter & Manajemen Forex

Bank Sentral memperingatkan bahwa stablecoin dapat mempersulit pengendalian arus modal dan kebijakan valuta asing. Jika penerbit swasta dibiarkan leluasa, bisa mengganggu stabilitas makro.

⚠️ Potensi Penyalahgunaan & Risiko Keamanan

Seperti stablecoin lain di dunia, penggunaan luas tanpa regulasi ketat bisa membuka celah bagi pencucian uang, transaksi ilegal, atau penipuan sehingga perlu KYC/AML dan audit transparan.

Bagaimana “Desain” Stablecoin Ideal Menurut Pakar

Menurut pendukung pendekatan regulatif, stablecoin yang ideal harus memiliki:

  • Cadangan penuh dalam fiat (won atau mata uang lokal) atau aset likuid berkualitas tinggi.

  • Mekanisme audit eksternal rutin dan transparansi reservasi.

  • Pembatasan penerbitan misalnya hanya bank atau lembaga keuangan yang diawasi.

  • Peraturan untuk mencegah “interest-bearing” stablecoin agar tidak menjadi instrumen spekulasi.

Dengan desain demikian, stablecoin bisa berfungsi sebagai alat pembayaran digital modern tanpa mengguncang kebijakan moneter atau stabilitas ekonomi.

Kesimpulan

Pendekatan “Design, Not Ban” untuk stablecoin menunjukkan bahwa regulasi kripto tidak harus konservatif ekstrim—melarang secara total bisa membuat negara tertinggal dalam inovasi keuangan digital.

Jika didesain dan diawasi dengan benar, stablecoin berbasis mata uang lokal bisa membawa manfaat besar: efisiensi pembayaran, inklusi keuangan, dan kedaulatan moneter. Namun kelemahan seperti risiko likuiditas, tekanan kebijakan moneter, dan potensi penyalahgunaan tetap harus mendapat perhatian serius.

Bagi Indonesia dan negara lain yang mempertimbangkan regulasi stablecoin, keberhasilan Korea bisa menjadi pelajaran penting: bahwa regulasi cerdas dan desain matang bisa jadi jalan tengah antara inovasi dan stabilitas. (redtc)

Baca Juga : MYX Finance Makin Dilirik Investor: Ekosistem Lending DeFi Baru yang Tawarkan Imbal Hasil Kompetitif

FAQ — Pertanyaan yang Sering Diajukan

1. Apa arti “Design, Not Ban” dalam konteks stablecoin?
Artinya: alih-alih melarang stablecoin, regulator memilih mendesain regulasi, mekanisme cadangan, audit, dan pengawasan agar stablecoin bisa aman dan bertanggung jawab.

2. Mengapa stablecoin berbasis lokal dianggap penting?
Karena bisa mengurangi ketergantungan pada stablecoin dolar, memperkuat kedaulatan moneter, dan mendukung sistem pembayaran nasional lebih efisien.

3. Apa risiko terbesar jika stablecoin tidak diatur dengan baik?
Risiko termasuk coin run (penarikan massal), tekanan terhadap kebijakan moneter dan devisa, serta potensi penyalahgunaan seperti pencucian uang.

4. Siapa yang idealnya menerbitkan stablecoin?
Sebagian besar pakar menyarankan hanya institusi yang diawasi—seperti bank atau lembaga keuangan berlisensi untuk mencegah risiko sistemik.

5. Apakah stablecoin bisa menggantikan mata uang fiat?
Tidak secara langsung. Stablecoin bisa menjadi alternatif pembayaran digital atau alat investasi, tapi keberhasilan dan adopsinya tergantung pada regulasi, kepercayaan, dan penerimaan masyarakat.

Tentang Penulis: Tabloid Crypto

MEDIA ONLINE KOMUNITAS CRYPTO

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *