MEDIA KOMUNITAS CRYPTO

Home » Harga Aset Kripto Bitcoin Kini di Level Rp 267 Juta, Waktu Tepat Beli atau Jual ?

Harga Aset Kripto Bitcoin Kini di Level Rp 267 Juta, Waktu Tepat Beli atau Jual ?

Ilustrasi investasi trading, bitcoin dan cryptocurrency. Pexels/Ivan Babydov

Ilustrasi investasi trading, bitcoin dan cryptocurrency. Pexels/Ivan Babydov


Crypto News – Harga aset kripto Bitcoin (BTC) menggeliat hari ini. Harga aset kripto Bitcoin berada di level US$ 17.241, atau naik 1,5 persen selama 24 jam terakhir atau naik 3,5 persen selama sepekan terakhir. Harga bitcoin kini setara dengan Rp 267 juta dengan acuan Rp 15.500 per dolar.

Berdasarkan data Coingecko menunjukkan, bitcoin telah membukukan Market Cap sebesar $331,568,028 dengan volume perdagangan sebesar $15,367,905. Jika dibandingkan seminggu sebelumnya (2 Januari 2023), BTC masih rendah. Ia berada di level US$ 16.681 dengan volume perdagangan sebesar $16,617,308.

Baca Juga : Nasib Kripto, Dari Bullish Sampai Disebut “Bullshit”

Kenaikan harga BTC yang terjadi pada hari ini memang belum signifikan. Harga BTC berada dalam tren koreksi sepanjang tahun lalu. Hal ini seiring dengan pengetatan kebijakan moneter yang dilakukan The Fed yang turut memicu turunnya harga aset kripto.

Chief Executive Officer (CEO) Indodax Oscar Darmawan mengatakan, pada 2023 BTC berpotensi untuk memasuki fase jenuh dari penurunan harga yang terjadi sejak awal 2022 dan berpotensi akan diikuti dengan masa koreksi naik menyambut halving day pada 2024.

Halving day adalah pengurangan pasokan Bitcoin sebanyak setengah di penambangan atau mining yang terjadi setiap empat tahun sekali. Halving day juga membuat harga BTC bisa naik karena terbatasnya suplai dan meningkatnya permintaan.

“Biasanya di tahun 2023 ini akan ada penyesuaian harga menuju Bitcoin halving berikutnya,” ujar Oscar dalam keterangannya di Jakarta pada pekan lalu.

Ia menjelaskan pada saat BTC naik akan diikuti dengan kripto lainnya yang akan berkembang dengan sangat positif. BullrunBitcoin diprediksi akan terjadi pada 2024. Namun tahun yang tepat untuk kembali mengakumulasi kripto adalah 2023. Karena tahun setelahnya, harga BTC berpotensi bisa jadi sudah menanjak terlalu tinggi lagi.

Hal serupa disampaikan Pelaksana Tugas. Kepala Badan Pengawas dan Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Didid Noordiatmoko. Didid menduga tahun 2023 merupakan masa winter yang luar biasa untuk aset kripto.

“Tahun 2023 winter ini nggak selesai-selesai. Pertanyaannya apakah ini sudah di titik paling bawah? 2023 walaupun tidak semakin memburuk, tapi untuk rebound belum sepenuhnya masih sulit,” katanya.

Ia menjelaskan pada saat BTC naik akan diikuti dengan kripto lainnya yang akan berkembang dengan sangat positif. BullrunBitcoin diprediksi akan terjadi pada 2024. Namun tahun yang tepat untuk kembali mengakumulasi kripto adalah 2023. Karena tahun setelahnya, harga BTC berpotensi bisa jadi sudah menanjak terlalu tinggi lagi.

Hal serupa disampaikan Pelaksana Tugas. Kepala Badan Pengawas dan Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Didid Noordiatmoko. Didid menduga tahun 2023 merupakan masa winter yang luar biasa untuk aset kripto.

“Tahun 2023 winter ini nggak selesai-selesai. Pertanyaannya apakah ini sudah di titik paling bawah? 2023 walaupun tidak semakin memburuk, tapi untuk rebound belum sepenuhnya masih sulit,” katanya.

Sementara itu, Wahyu Laksono, Founder Traderindo.com mengatakan tren BTC memang sedang turun, “Tetapi bukan karena dia aset kripto. Semua aset memang melemah terhadap dolar AS sejak kenaikan suku bunga The Fed,” jelas Wahyu.

Wahyu memaparkan mulai meredanya inflasi pada tahun ini dapat berimbas positif terhadap pergerakan aset kripto seperti Bitcoin, Meski demikian, potensi pelemahan Bitcoin pada 2023 juga masih cukup terbuka mengingat adanya ancaman resesi global. Dia melanjutkan kedua skenario tersebut berpotensi memicu turunnya nilai dolar AS.

Jika resesi terjadi, maka nilai dolar AS akan menguat terkait dengan sifat safe haven-nya. Di sisi lain, hal tersebut akan memaksa The Fed lebih realistis untuk menyelamatkan ekonomi dan pasar saham dengan memangkas suku bunga dan stimulus quantitative easing (QE). Sementara itu, jika inlfasi mereda maka The Fed akan cenderung tidak agresif dan mengeluarkan stimulus berupa quantitative easing.

“Jadi, apapun kondisinya dolar AS pada akhirnya potensial bergerak melemah. Yang menjadi pertanyaan adalah kapan penurunan ini terjadi,” lanjutnya. Adapun, Wahyu melanjutkan, secara fundamental BTC masih memiliki nilai dalam jangka panjang. Hal tersebut terlihat dari pengakuan dari institusi global dan bursa dunia terhadap aset ini hingga menjadikannya sebagai salah satu aset finansial

Wahyu memprediksi harga BTC masih akan terkonsolidasi pada tahun ini pada kisaran US$18.000 – US$25.000. Harga Bitcoin juga masih berpotensi terkoreksi hingga ke kisaran US$10.000 sebelum kembali ke level konsolidasi.

Baca Juga : Bappebti Canangkan Februari Sebagai Bulan Literasi Aset Kripto

Sementara itu, jika The Fed melakukan pelonggaran kebijakan moneter dan memberikan stimulus quantitative easing, harga BTC dapat rebound dan menguji kisaran US$50.000 – US$60.000.

Pada awal kemunculannya, BTC memulai harganya pada level US$0. Pada Februari 2011, Bitcoin mencapai valuasi US$1. Tidak lama kemudian, harga aset naik menjadi US$10 dan kemudian menjadi US$30, menyebabkan lompatan 30 kali lipat untuk tahun itu.

Pada 2013, harga BTC melewati US$1.000 per token. Kemudian, harga BTC berhasil menembus level US$2.000 pada pertengahan Mei 2017. Pada masa pandemi virus corona, harga BTC terus mengalami kenaikan hingga mencatatkan all time high di US$68.789 pada November 2021.

Sumber : tempo.co

Berlangganan Tabloid Crypto

Affiliate Banner Unlimited Hosting Indonesia