MEDIA KOMUNITAS CRYPTO

Home » Jelang Rilis Data Inflasi AS, Bitcoin cs Cenderung Sideways

Jelang Rilis Data Inflasi AS, Bitcoin cs Cenderung Sideways

Foto: Infografis/ Kejatuhan Harga Bitcoin dari Masa ke Masa


Crypto News – Harga kripto cenderung kembali sideways pada perdagangan Kamis (13/10/2022), Melansir data dari CoinMarketCap pada pukul 10:00 WIB, Bitcoin naik 0,12% ke posisi harga US$ 19.087,97/koin atau setara dengan Rp 292.809.460/koin (asumsi kurs Rp 15.340/US$). Sedangkan untuk Ethereum menguat 0,27% ke posisi US$ 1.287,06/koin atau Rp 19.743.500/koin.

Namun, beberapa koin digital (token) alternatif (altcoin) terpantau ambruk lebih dari 2%, seperti XRP yang ambles 3,08%, Cardano yang ambrol 4,45%, dan Dogecoin yang merosot 2,03%.

Berikut pergerakan 10 kripto utama pada hari ini.

Cryptocurrency Dalam Dolar AS Dalam Rupiah Perubahan Harian (%) Perubahan 7 Hari (%) Kapitalisasi Pasar (US$ Miliar)
Bitcoin (BTC) 19.087,97 292.809.460 0,12% -6,11% 365,73
Ethereum (ETH) 1.287,06 19.743.500 0,27% -6,30% 157,89
Tether (USDT) 1,00 15.340 0,01% -0,01% 68,42
USD Coin (USDC) 1,00 15.340 0,00% 0,01% 45,81
BNB 269,77 4.138.272 -0,75% -9,05% 43,40
XRP 0,4714 7.231 -3,08% -4,91% 23,46
Binance USD (BUSD) 0,9996 15.334 -0,09% -0,06% 21,64
Cardano (ADA) 0,3749 5.751 -4,45% -13,86% 12,80
Solana (SOL) 30,81 472.625 -0,23% -10,25% 10,98
Dogecoin 0,05884 903 -2,03% -9,49% 7,79

Sumber: CoinMarketCap

Baca Juga : Berpotensi Mengganggu, Anggota G20 Siapkan Aturan Penggunaan Aset Kripto

Pasar kripto masih cenderung diperdagangkan sideways, karena investor masih memasang sikap wait and see jelang rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) periode September 2022.

Investor memperkirakan inflasi AS dari sisi konsumen (consumer price index/CPI) akan naik 8,1% pada periode September 2022. Sedangkan Inflasi inti, yang tidak termasuk harga makanan dan energi yang bergejolak, diperkirakan akan meningkat menjadi 6,4%.

Inflasi berasal dari peningkatan jumlah uang beredar, tetapi harga energi yang lebih tinggi akibat pasokan minyak yang lebih rendah juga berkontribusi pada kenaikan harga.

Inflasi yang masih meninggi kemungkinan akan menyebabkan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) melanjutkan kebijakan kenaikan suku bunga acuannya. Hal ini akan memperlambat pertumbuhan ekonomi dan membatasi permintaan untuk aset berisiko, termasuk kripto.

Investor di kripto juga cenderung merespons negatif dari risalah pertemuan Federal Open Market Coommittee (FOMC) pada 20-21 September lalu. The Fed seakan cenderung terkejut melihat laju kenaikan harga yang cepat.

Risalah tersebut semakin menegaskan jika The Fed masih akan melanjutkan kebijakan hawkish-nya ke depan demi memerangi inflasi.

“Partisipan melihat jika inflasi masih terlalu tinggi dan jauh di atas target 2% yang ditetankan Committee. Partisipan menekankan tindakan yang terlalu sedikit dalam menurunkan inflasi bisa memakan ongkos yang jauh lebih besar,” tulis risalah FOMC, dikutip dari website The Fed

The Fed melihat jika penurunan inflasi lebih lambat dari ekspektasi mereka. Inflasi AS mencapai 8,3% (yoy) pada Agustus, sedikit melandai dari 8,5% (yoy) pada Juli.

“Sejumlah partisipan menggarisbawahi pentingnya stance tegas selama mungkin yang diperlukan. Pengalaman sejarah menunjukkan bahayanya mengakhiri kebijakan ketat secara prematur,” tulis risalah tersebut.

Dengan masih hawkish-nya The Fed, pelaku pasar pun kemudian berekspektasi jika The Fed masih akan menaikkan suku bunga secara agresif pada November mendatang.

Baca Juga : Kripto GRT Coin Melemah Hari Ini 22 September 2022, Berikut Kinerjanya

Berdasarkan perangkat CME FedWatch, pasar yang memperkirakan kenaikan suku bunga The Fed sebesar 50 basis poin (bp) memiliki probabilitas mencapai 15,2%. Sedangkan yang memprediksi kenaikan sebesar 75 bp memiliki probabilitas mencapai 84,8%.

Jika The Fed belum menghentikan sikap hawkish-nya, maka potensi resesi di AS bahkan di global tidak dapat terhindarkan.

Chief global strategist LPL Financial, Quincy Krosby, mengingatkan kebijakan ketat The Fed bisa membawa ekonomi AS ke jurang resesi. Kondisi tersebut tentu saja dihindari pelaku pasar karena ekonomi yang melambat bisa menggerus keuntungan perusahaan.

“Pasar khawatir jika kebijakan moneter terlalu ketat maka bisa mengakibatkan pasar keuangan tergelincir yang membuat likuditas kering dan membahayakan perekonomian global,” tutur Krosby, dikutip dari CNBC International.

Sumber : cnbcindonesia.com

Berlangganan Tabloid Crypto


PHP Dev Cloud Hosting