MEDIA KOMUNITAS CRYPTO

Home » Bagaimana Bitcoin di 2023? Ada yang Meramal Naik 1.400%, Ada yang Prediksi Jatuh 70%

Bagaimana Bitcoin di 2023? Ada yang Meramal Naik 1.400%, Ada yang Prediksi Jatuh 70%

ILUSTRASI. Jatuhnya harga sebagian besar cryptocurrency dan banyaknya skandal menghancurkan pasar ini. KONTAN/Cheppy A. Muchlis

ILUSTRASI. Jatuhnya harga sebagian besar cryptocurrency dan banyaknya skandal menghancurkan pasar ini. KONTAN/Cheppy A. Muchlis


Crypto News – Anjloknya pasar mata uang kripto pada tahun 2022 menakuti investor individu.

Jatuhnya harga sebagian besar cryptocurrency dan banyaknya skandal menghancurkan pasar ini.

Mengutip The Street, pasar kripto telah kehilangan nilainya lebih dari US$ 2,1 triliun dari rekor tertinggi sepanjang masa sebesar US$ 3 triliun lebih yang dicapai pada November 2021. Penurunan ini berarti bahwa investor telah melihat nilai portofolio mereka mencair. Bagi beberapa investor individu, hampir semua tabungan mereka telah menguap.

Baca Juga : Anti Resesi! Robert Kiyosaki Bilang Aset Ini Seperti Emas

Menurut data CoinGecko, Bitcoin, mata uang kripto terkemuka di dunia berdasarkan nilai pasar, telah turun dari level tertinggi sepanjang masa di level US$ 69.044,77 yang dicapai pada 10 November 2021 menjadi US$ 16.746,62 saat ini.

Prediksi menggiurkan

Ketika banyak investor individu bergabung dengan kegilaan kripto pada akhir tahun 2021, sejumlah pelaku dan analis kripto memperkirakan bahwa cryptocurrency sedang dalam perjalanan untuk mencapai level US$ 100.000 sebelum akhir tahun 2021.

Terpikat oleh prediksi yang menggiurkan ini, banyak investor ritel yang pada akhirnya menyerah pada FOMO, yang merupakan singkatan dari Fear of Missing Out. FOMO adalah akronim crypto yang digunakan secara umum untuk kecemasan kehilangan uang.

Sementara kemerosotan pasar telah membekukan investor amatir, para trader kripto tidak kehilangan kepercayaan bahkan ketika mereka mengalami kerugian yang tidak sedikit.

Salah satunya adalah miliarder Tim Draper. Dia memperkirakan bahwa bitcoin akan mencapai level US$ 250.000 pada akhir tahun 2022.

Dia baru saja mengulangi prediksi itu untuk tahun 2023 dalam email yang dikirimkannya ke CNBC. Mengingat harga bitcoin saat ini, ini berarti mata uang digital akan melonjak 1.400%. “Asumsi saya adalah bahwa karena wanita mengendalikan 80% pengeluaran ritel, dan hanya 1 dari 7 dompet bitcoin yang saat ini dipegang oleh wanita, bendungan itu akan segera rusak,” kata Draper.

Draper percaya bahwa ada faktor positif untuk memulai kembali kebangkitan cryptocurrency.

“Saya menduga halvening pada tahun 2024 akan berjalan positif,” kata pendiri Draper Fisher Jurvetson kepada CNBC. Halving adalah fenomena penting dari protokol Bitcoin yang terjadi kira-kira setiap empat tahun.

Halving merupakan kegiatan membagi dua hadiah yang diberikan kepada penambang bitcoin yang mendaftarkan blok baru di blockchain.

Protokol Bitcoin berisi sejumlah aturan yang ditulis ke dalam kodenya dan tidak dapat dilanggar. Yang pertama adalah pembatasan jumlah bitcoin: tidak akan pernah ada lebih dari 21 juta bitcoin yang beredar. Gagasan kelangkaan inilah yang membuat nilai bitcoin terjaga.

Setiap 210.000 blok, hadiah penambang untuk mempertahankan jaringan Bitcoin berkurang setengahnya. Oleh karena itu, halving memiliki tujuan ganda: membatasi jumlah bitcoin baru yang beredar di jaringan dan memungkinkan umur panjang blockchain terus berlanjut.

Masalah besar dengan prediksi Draper adalah bahwa ada banyak ketidakpastian seputar industri cryptocurrency saat ini. Salah satunya berkaitan dengan nasib korban dari kebangkrutan kerajaan Sam Bankman-Fried, mantan raja crypto.

Prediksi Standard Chartered

Namun, untuk beberapa pelaku pasar, yang terburuk di pasar kripto belum datang.

Dalam catatan penelitian 5 Desember 2022, Standard Chartered memprediksi harga bitcoin mungkin tenggelam hingga ke level US$ 5.000.

Mengutip CNBC, prediksi tersebut akan mewakili penurunan 70% dari harga saat ini.

Baca Juga : Mendag Zulhas: Nilai Transaksi Aset Kripto Capai Rp 290 T hingga Desember 2022

Dalam skenario terburuk Standard Chartered, kejatuhannya seiring dengan saham teknologi.

“Dan sementara penjualan Bitcoin melambat, kerusakan telah terjadi,” kata Eric Robertsen, kepala penelitian global bank tersebut.

Dia menambahkan, “Semakin banyak perusahaan dan bursa crypto menemukan diri mereka dengan likuiditas yang tidak mencukupi, yang menyebabkan kebangkrutan lebih lanjut dan jatuhnya kepercayaan investor terhadap aset digital.”

Sumber : international.kontan.co.id

Berlangganan Tabloid Crypto

SimpleWordPress