MEDIA KOMUNITAS CRYPTO

Home » Bitcoin cs Balik Arah & Lesu Lagi, Ada Apa?

Bitcoin cs Balik Arah & Lesu Lagi, Ada Apa?

Foto: Ilustrasi Cryptocurrency (Photo by Pierre Borthiry on Unsplash)


Crypto News – Pasar kripto berbalik melemah pada perdagangan Jumat (28/10/2022), di mana investor menimbang hasil dari rilis data pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) pada periode kuartal III-2022.

Melansir data dari CoinMarketCap pada pukul 09:30 WIB, Bitcoin merosot 2,38% ke posisi harga US$ 20,280,16/koin atau setara dengan Rp 315.457.889/koin (asumsi kurs Rp 15.555/US$). Sedangkan untuk Ethereum ambles 3,08% ke posisi US$ 1.516,52/koin atau Rp 23.589.469/koin.

Berikut pergerakan 7 kripto utama non-stablecoin pada hari ini.

Cryptocurrency Dalam Dolar AS Dalam Rupiah Perubahan Harian (%) Perubahan 7 Hari (%) Kapitalisasi Pasar (US$ Miliar)
Bitcoin (BTC) 20.280,16 315.457.889 -2,38% 6,14% 388,88
Ethereum (ETH) 1.516,52 23.589.469 -3,08% 17,49% 185,17
BNB 287,32 4.469.263 -0,79% 6,64% 45,89
XRP 0,4646 7.227 -1,37% 3,83% 23,22
Cardano (ADA) 0,3851 5.990 -5,25% 13,00% 13,19
Solana (SOL) 30,64 476.605 -1,98% 8,91% 10,97
Dogecoin 0,07330 1.140 -2,06% 23,96% 9,72

Sumber: CoinMarketCap

Bitcoin masih bertahan di level psikologis US$ 20.000 pada hari ini, meski terlihat melemah bersama dengan kripto lainnya.

Pasar kripto berbalik melemah, mengikuti pergerakan bursa saham AS, terutama indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite yang kembali terkoreksi pada perdagangan Kamis kemarin, setelah dirilisnya data pertumbuhan ekonomi AS periode kuartal III-2022.

Kemarin, Departemen Perdagangan AS melaporkan Produk Domestik Bruto (PDB) AS tumbuh 2,6% pada periode Juli – September lalu. Sementara pada dua kuartal sebelumnya, PDB tercatat terkontraksi 1,6% dan 0,6%, artinya secara teknis sudah mengalami resesi.

Dengan PDB yang tumbuh di kuartal III-2022, artinya AS lepas dari resesi. Tetapi, hal ini tidak serta merta disambut baik oleh para pelaku pasar. Sebab, dengan PDB yang tumbuh lebih tinggi dari ekspektasi Wall Street 2,3%, ada kemungkinan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) akan terus agresif menaikkan suku bunga.

The Fed sepanjang tahun ini kenaikannya sebesar 300 basis poin (bp), menjadi 3% – 3,25% dan masih akan terus berlanjut.

Pada November nanti, bank sentral paling powerful di dunia ini diperkirakan akan menaikkan lagi sebesar 75 bp menjadi 3,75% – 4%. Tidak cukup sampai di situ, kenaikan masih akan terus dilakukan hingga awal tahun depan.

Berdasarkan data dari perangkat FedWatch milik CME Group, pasar melihat ada probabilitas sebesar 43% suku bunga The Fed berada di level 4,75% – 5% pada Februari 2023.

Meski demikian, Wall Street Journal (WSJ) pada pekan lalu melaporkan adanya “perpecahan” di tubuh The Fed.

Beberapa pejabat The Fed secara terang-terangan juga sudah mengemukakan perbedaan pendapatnya.

Baca Juga : Google Diperiksa Departemen Kehakiman AS Terkait Data Pertukaran Kripto

Presiden The Fed San Francisco Mary Daly adalah salah satu pejabat yang menyuarakan keinginan agar The Fed bisa mengendurkan laju kenaikan suku bunga. Menurutnya, pelonggaran kebijakan diperlukan untuk mencegah ekonomi AS melambat lebih dalam.

“Pasar sudah mem-priced in kenaikan 75 bp lagi. Namun, saya ingin mengingatkan jika kenaikan suku bunga sebesar 75 bp tidak akan selamanya. Kita harus memastikan untuk tidak mengetatkan kebijakan terlalu ketat. Perang, perlambatan ekonomi Eropa, dan kenaikan suku bunga global akan berdampak ke ekonomi AS,” tutur Daly, berbicara dalam sebuah pertemuan yang diselenggarakan Universitas Berkeley California, seperti dikutip dari Reuters.

Hal ini membuat Wall Street bervariasi merespon rilis data PDB. Investor menanti kepastian ke mana arah kebijakan The Fed, apakah masih tetap agresif, atau mulai mengendur.

Sumber : cnbcindonesia.com

Berlangganan Tabloid Crypto


Cloud Hosting