Reku Berharap Masalah Pencucian Uang tidak Digeneralisasi di Industri Kripto

oleh -72 Dilihat
Foto: Changpeng Zhao, CEO dan Pendiri bursa kripto Binance AP/
Foto: Changpeng Zhao, CEO dan Pendiri bursa kripto Binance AP/

nabung crypto currency rekeningku 1
Tabloid Crypto – Industri kripto secara keseluruhan dilanda masalah pencucian uang tengah. Changpeng Zhao (CZ), pendiri bursa kripto Binance, telah mengundurkan diri karena melanggar undang-undang pencucian uang AS.

Changpeng Zhao mengaku bersalah atas tuntutan Departemen Kehakiman AS tentang pelanggaran undang-undang pencucian uang. CZ mengundurkan diri sebagai CEO Binance dan membayar denda US$50 juta kepada DOJ atas tuntutan tersebut.

Selain itu, Binance sebagai pertukaran harus membayar denda sebesar US$ 4,3 miliar—jumlah terbesar yang pernah dikenakan kepada sebuah perusahaan.

Baca Juga : Meskipun Pasar Kripto Melemah Bitcoin Justru Menjadi Lebih Hijau

Dalam situasi yang serupa, Securities and Exchange Commission (SEC) melakukan tuduhan terhadap bursa kripto berbasis di Amerika Serikat lainnya, Kraken. Tuduhan tersebut berkaitan dengan keyakinan SEC bahwa Kraken berfungsi sebagai dealer, lembaga kliring, dan broker ilegal dan tidak terdaftar yang memfasilitasi perdagangan sekuritas.

Robby, Chief Compliance Officer (CCO) Reku, menyatakan ketidakpuasanannya dengan berita tersebut. Fakta bahwa berita tentang pencucian uang dapat memengaruhi keyakinan investor global terhadap aset kripto.

Mereka berharap masyarakat dapat belajar dari berita tersebut, terutama dalam hal memilih platform. Robby, yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Aspakrindo-ABI, mengatakan dalam siaran pers pada Kamis (23/11), “Pilihlah pertukaran yang terdaftar di Bappebti. Terutama di Indonesia, pemerintah secara serius mengatur seluruh operasional platform pertukaran kripto yang terdaftar.”

Robby mengatakan bahwa beberapa Peraturan Bappebti menghasilkan peraturan tersebut. Beberapa di antaranya adalah Peraturan Bappebti Nomor 13 Tahun 2022 mengenai Perubahan atas Peraturan Bappebti, yang juga mengatur Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (APU-PPT) dan Peraturan Bappebti Nomor 8 Tahun 2021 mengenai Penerapan Peraturan Perjalanan.

Robby menambahkan, “Upaya ini dijalankan untuk mencegah tindakan ilegal dari pelaku pertukaran sekaligus memberikan perlindungan bagi para investor.”

Baca Juga : Bandar Kripto Tersembunyi Bali, Buronan Singapura

Robby mengatakan bahwa menjadi anggota penuh Financial Action Task Force (FATF) meningkatkan upaya pencegahan pencucian uang karena menjadi anggota FATF meningkatkan kredibilitas penegakan hukum Indonesia dalam menghentikan tindakan ilegal, termasuk pencucian uang.

Reku menggunakan proses e-KYC (Know Your Customer) yang ketat namun tetap menjaga privasi pelanggan. Selain itu, Reku rutin melakukan audit eksternal, yang menunjukkan bahwa dana yang tersimpan di Reku lebih besar daripada jumlah transaksi pengguna.

Robby mengatakan, “Ini menunjukkan bahwa Reku benar-benar menjaga keamanan transaksi pengguna, tidak menyalahgunakannya apalagi untuk pencucian uang. Jadi diharapkan masyarakat juga tidak menggeneralisasi berita yang sedang ramai ini ke semua exchanger.”

Berita seperti ini sangat mengkhawatirkan pasar kripto, di mana harga aset kripto sering dipengaruhi oleh aksi perusahaan kripto dan aset manajamen kelas kakap.

Menurut Crypto Analyst Reku Fahmi Almuttaqin, jumlah denda yang telah mencapai rekor tertinggi dalam kasus kripto sebelumnya juga dapat menyebabkan optimisme investor menurun.

Fahmi menyatakan bahwa investor dapat menganggap berita tersebut sebagai kehilangan peluang bagi pasar kripto karena Binance merupakan salah satu investor institusi terbesar yang telah berinvestasi dalam sejumlah besar proyek kripto.

Fahmi mengatakan bahwa jika denda sebesar lebih dari US$ 4 miliar tersebut digunakan untuk investasi pada proyek kripto yang sedang berkembang, itu pasti akan berdampak positif pada pasar.

Berita tersebut juga menyebabkan penurunan harga di pasar kripto. Harga Bitcoin turun sekitar 3,62% ke $36,107 pada Rabu (22/11). Dalam 24 jam terakhir, Ethereum juga turun 3,2 persen. Dalam 24 jam terakhir, Dogecoin turun 5,68%, dan BNB turun 13,2%.

Namun demikian, Fahmi menekankan pelemahan pasar kripto karena berita tersebut dapat dianggap wajar. Jika momentum tersebut terjadi dalam kondisi pasar yang tidak sekuat saat ini, ada kemungkinan pasar kripto akan terkoreksi lebih dalam lagi.

Baca Juga : CEO Binance Mengakui Kesalahan Pasar Kripto Menangis

“Penurunan harga aset kripto di pasar yang terbilang cukup rendah relatif terhadap skala berita yang terjadi, menandakan kekuatan fundamental pasar kripto yang sangat positif,” katanya.

Secara umum, tren positif aliran dana ke pasar kripto melalui instrumen Exchange Traded Product (ETP) telah bertahan selama delapan minggu terakhir. Menurut data Coin Shares, terdapat aliran dana sebesar US$ 176 juta di minggu lalu. Ini menambah total aliran dana YTD sebesar US$1,32 miliar.

Fahmi menyatakan bahwa ini menunjukkan performa pasar kripto yang masih berpotensi positif. Namun, kita masih perlu memantau hingga akhir tahun ini.

Jika dilihat secara historis, kata Fahmi, aliran dana—juga dikenal sebagai “arus dana”—capai US$ 2,6 miliar pada 2019 lalu sebelum melonjak ke US$ 6,6 miliar pada pasar bull pada tahun 2020. (red/tc)

Berlangganan Tabloid Crypto
Verifikasi Data Indodax Cara Membuat Wallet dan Deposit di Indodax 6
NAGA INTERIOR Banner 1 1 scaled

Tentang Penulis: Tabloid Crypto

MEDIA ONLINE KOMUNITAS CRYPTO

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *